Nabi Muhammad dijuluki Al Amin, artinya orang yang dapat dipercaya, dalam hal perniagaan, bekerja sebagai pedagang, interaksi jual beli yang dijalani Nabi senantiasa mencerminkan kejujuran beliau, berikut beberapa sifat Nabi dalam kaitannya dengan jiwa dagang seorang muslim sejati yang harus dimiliki.
Bersikap Jujur
Jujur merupakan salah satu sifat Nabi Muhammad. Yakni Shiddiq yang berarti jujur. Rasulullah selalu jujur dalam perkataan maupun perbuatannya, termasuk saat berdagang atau berbisnis.
Tidak pernah beliau berbohong dan bersikap munafik. Apalagi mengurangi berat timbangan barang dagangan. Misalnya jualan 1 kg gula, ya benar-benar takarannya 1 kg. Tidak kurang, bahkan Rasulullah selalu melebihkan.
Kalau barang bagus, pasti oleh beliau dikatakan bagus. Jelek dikatakan jelek. Maka dari itu, baginda Nabi dijuluki Al Amin, artinya orang yang bisa dipercaya.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya para pedagang (pengusaha) akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat, kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR.Tirmidzi).
Sikap ini juga seharusnya diteladani para pengusaha lain, agar pembeli merasa puas dan menjadi pelanggan tetap karena kepercayaan mereka terhadap perdagangan yang dilakukan.
Jual Barang Bukan Kaleng-kaleng alias Berkualitas Baik.
Saat berdagang, Rasulullah tidak mau tuh jual barang yang kualitasnya kaleng-kaleng. Beliau menjual barang berkualitas baik agar tidak merugikan pembeli.
Selain itu, Nabi ingin pembelinya mendapat barang sepadan atas harga yang sudah dibayarkan. Jadi, produk yang dijajakan Rasulullah selalu yang kualitas wahid.
Di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Ibnu Majah, Uqbah bin Amir pernah mendengar Rasulullah berkata, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan”.
Artinya apa, kalau hendak menjual barang seken misalnya, ya jelaskan kepada calon pembeli bahwa barang tersebut bukan ori. Jangan mengaku-ngaku bagus, tetapi ternyata ada cacat di sana-sini.
Dengan menjual dagangan kualitas bagus, pembeli tentu senang dengan barang tersebut. Apalagi kalau dapat harga murah, tapi kualitas tidak murahan.
Mengambil Untung Sewajarnya
Setiap pedagang atau pengusaha pasti ingin untung. Tidak ada yang mau rugi. Nah masalahnya, ada penjual yang mau untung gede.
Agar bisa untung gede bahkan ditempuh dengan cara-cara tidak wajar maupun tidak halal. Misalnya harga jual terlalu mahal padahal biaya produksi murah, barang seken tapi diakui ori, barang ditimbun agar harganya tinggi, dan sebagainya.
Sementara Nabi Muhammad tidak pernah tuh ngambil untung banyak. Beliau ngambil untung sewajarnya saja. Karena bukan uang yang dicari Rasulullah, namun keberkahan dari Allah SWT dari hasil perniagaan beliau yang juga bernilai ibadah.
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20).
Buat apa banyak uang dari keuntungan yang tidak wajar di dunia, tetapi tidak berkah. Niscaya duitnya bakal habis begitu saja tanpa tahu jejaknya, seperti habis untuk pengeluaran biaya pengobatan, dan lainnya.
Melakukan Strategi Pemasaran
Tidak cuma pengusaha zaman sekarang saja yang melakukan strategi pemasaran, Baginda Nabi pun sudah menerapkannya dulu.
Pertama, beliau membidik target pasar. Tidak hanya menyasar pada target pasar tertentu saja, namun semua segmen dari kalangan bawah sampai atas.
Kedua, berpikir kreatif dan inovatif untuk menjual barangnya. Beliau menjalin hubungan baik dengan pelanggan maupun koleganya sebagai jalan melebarkan sayap bisnis ke penjuru dunia.
Setiap pedagang dapat mencontoh Nabi Muhammad soal tersebut. Kalau perlu menambah strategi lain yang disesuaikan dengan tren masa kini.
Tidak Mudah Menyerah
Menyerah hanya dilakukan para pecundang. Orang yang gampang menyerah, putus asa, niscaya hidupnya tidak akan sukses.
Kalau bisnis atau jualan lagi sepi, ya hadapi. Putar otak, ubah strategi untuk membalikkan keadaan. Bukan malah menyerah.
Buktinya Rasulullah terus berusaha meski dihadapkan dengan cobaan bertubi-tubi. Ujian yang dihadapi pedagang mungkin tidak ada apa-apanya dibanding beliau.
Jika sekarang resesi, bahkan ada yang tidak suka atau julid dengan bisnis perdagangan yang dijalankan, tidak perlu marah, atau sampai ingin mengakhiri hidup.
Namanya orang dagang, ada kalanya sepi, ada saatnya ramai. Ada waktunya untung, kadang juga rugi. Nikmati saja prosesnya sambil terus ikhtiar.
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).
Indahnya BerShalawat.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلـٰٓی اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ (ﷺ)
Pena Dakwah Tu Sudan Aceh
