Ini Profil Dedi Mulyadi, Dari Jualan Es Hingga Gubernur Jawa Barat

Jeumpa Media | Bandung- Akrab disapa dengan sebutan Kang Dedi Mulyadi atau (KDM) resmi terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat setelah berhasil memenangkan Pilgub Jabar 2024 dengan meraih 62,22 persen atau 14.130.192 suara.

Namun, sebelum sukses menjadi Gubernur, Dedi ternyata memiliki lika liku kehidupan panjang di dunia politik.

Berawal dari menjadi anggota DPRD Purwakarta, Wakil Bupati Purwakarta, Bupati Purwakarta dua periode, hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Berikut profil Dedi Mulyadi yang telah dirangkum Jeumpa Media pada Senin (5/5/2025).

Dedi Mulyadi di ketahui lahir pada 11 April 1971 di Subang, ia lahir dari keluarga sederhana dan harus berjuang keras hanya untuk mengisi perut.

Dedi memiliki ayah yang bernama Ahmaf Suryana, ia merupakan purnawirawan tentara yang hanya bisa berkarya di dunia militer hingga usia 28 tahun dengan pangkat sebagai prajurit kader. Konon katanya Ayah Dedi sakit-sakitan karena diracun oleh mata-mata kolonial Belanda.

Karena pensiun, Suryana akhirnya hanya bisa bekerja di perkebunan, akan tetapi hanya sesaat karena Suryana tak ingin bersekongkol menjual pupuk ilegal.

Mulai saat itu, Karsiti yaitu Ibunda Dedi terpaksa mengambil alih tanggung jawab sang ayah untuk mencari nafkah. Karsitu menjadi kuli tandur hingga nyangkul. 

Sementara Dedi kecil pun akhirnya terbiasa makan makanan sederhana. Ikan asin merupakan menu istimewa yang dapat dinikmati keluarganya pada tanggal muda 1-5 kalender. Selanjutnya ia akan kembali makan hanya dengan garam.

“Garam dikasih bawang, terus disimpan di toples. Makanan ini yang dibagikan pada sembilan anak. Terkadang malam hari saya diajak cari belalang untuk teman nasi,” ungkapnya yang di lansir dari Kompas com.

Jualan Es Mambo dan Kuli Angkut

Dedi bercerita saat kecil ia sering berjualan es mambo demi untuk bisa jajan. Ia harus menghabiskan 50 es mambo untuk satu termos dan mendapatkan upah 5 es mambo. Akan tetapi, upah 5 es itu pun ia jual juga yang hasilnya diberikan pada ibunya.

Ia juga mengaku pernah jualan layang dan menjadi penjual kayu bakar seusai pulang sekolah. Bahkan ia juga mencari sambilan dengan bekerja sebagai kuli pikul batu bata demi bisa mendapatkan baju baru untuk Lebaran.

“Satu batu bata dibayar 1 perak. Saya kuat angkut 10 biji. Ngangkutnya sekitar 5 kilometer dari hutan. Uangnya ini buat beli baju,” kenang Dedi.

Merengek Minta Domba

Dedi adalah anak yang jarang merengek. Akan tetapi entah mengapa kala itu Dedi merengek pada Ibunya meminta 2 ekor domba untuk digembala.

Hingga sang ibu akhirnya menjual cincinnya seharga 7.500 untuk membeli sepasang Domba jantan dan betina.

Sejak mempunyai domba, setiap hari Dedi dibantu kakak keduanya yaitu, Kang Ade untuk menggembala domba dan ibu membantu menyabit rumput.

Domba yang berawal hanya 2 ekor, akhirnya bertambah jadi 40 ekor. Domba-domba inilah yang kemudian dapat membantu uang sekolah Dedi serta kebutuhan hidup keluarganya.

Memasuki SMA, Dedi kemudian bekerja sambilan menjadi tukang ojek di kampungnya. Ia mengumpulkan Rp 2.000 per hari untuk biaya sekolah.

Gagal Masuk Militer

Usai tamat SMA, Dedi sempat mencoba mengikuti jejak sang Ayah di dunia militer. Apalagi ia juga  mengidolakan M Jusuf. Akhirnya Dedi mendaftar ke AKABRI dan Secapa. Namun sayang, kedua harapannya kandas.

Lantaran berat badannya hanya 48 kilogram yang tak mencukupi persyaratan minimal 55 kilogram. Kemudian Dedi beralih untuk masuk Fakultas Hukum di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Dedi pun lulus, akan tetapi Dedi tak sanggup dengan biaya Kuliah. Akhirnya ia gagal melanjutkan pendidikan.

Dedi pun kemudian mengikuti sang kakak ke Purwakarta. Di sana Dedi dan kakaknya tinggal di rumah kontrakan yang kondisinya nyaris roboh dan hanya hanya ada satu kasur, sehingga Dedi tidur di lantai tanpa alas.

“Kakak saya penjaga genset, penghasilannya Rp 100.000 per bulan sisa potongan bank. Karenanya kalau belanja sekaligus. Ikan asin, lalu gudeg pake tulang ikan asin kuat untuk dua minggu,” ceritanya.

Kemudian, dengan tekat kuat Dedi pun berencana melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Purwakarta. Ia berjualan gorengan dan pekerjaan apapun untuk biaya kuliah asal halal.

“Hasil dari jualan gorengan, beras, dan lainnya, saya gunakan untuk biaya kuliah dan berorganisasi. Saya pun tinggal di sekretariat,” katanya.

Karir Politik Di kampus

Sekitar tahun 1994, Dedi Mulyadi pernah menjadi Ketua HMI Cabang Purwakarta. Selain itu ia juga terlibat aktif di organisasi buruh seperti Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) pada 1997 dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) pada 1998.

Pada 1998, setahun sebelum kelulusannya, Dedi memutuskan untuk menikah dengan Sri Muliawati. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai anak bernama Maulana Akbar Ahmad Habibie.

Dengan sikapnya yang kritis, Dedi kemudian terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Purwakarta periode 1999-2004 melalui Partai Golkar.

Selanjutnya, pada tahun 2003, sebelum berakhir jabatan sebagai anggota DPRD, Dedi dipinang oleh Lily Hambali untuk mendampinginya di Pilkada Wakil Bupati Purwakarta 2003-2008.

Di tahun yang sama, Dedi menikah kembali dengan Anne Ratna Mustika usai cerai dengan Sri Muliawati. Dedi dikaruniai lagi 2 orang anak.

Hingga pada Pilbup 2008, Dedi dengan gagah mencalonkan diri menjadi Bupati Purwakarta dan menang, saat itu ia berpasangan dengan Dudung B Supardi.

Dedi kemudian kembali menjadi Bupati Purwakarta pada periode 2013-2018. Sementara di Golkar, Dedi Mulyadi terpilih aklamasi sebagai Ketua DPD Golkar Jawa Barat.

Kemudian ia melanjutkan pencalonan sebagai Wagub Jabar mendampingi Deddy Mizwar di Pilgub Jabar 2018, akan tetapi ia gagal. Dedi pun tak menyerah,  ia kemudian menjadi anggota DPR RI sebelum akhirnya kembali maju di Pilgub Jabar 2024 dari Partai Gerindra dan berhasil terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat saat ini.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *