Jeumpa Media | Banda Aceh- Tepat pada tanggal 21 April, Indonesia memperingati hari Raden Ajeng Kartini yang merupakan salah satu pahlawan emansipasi wanita.
Momentum ini biasanya dimanfaatkan warga Indonesia dalam mengenang jasa besar R.A. Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita, dan kesetaraan.
Namun, tahukah kamu jika Aceh juga memiliki pahlawan perempuan hebat yang tak kalah dengan perjuangan Kartini, bahkan memiliki kemampuan strategi perang yang luar biasa untuk mempertahankan bangsanya, rela berkorban tumpah darah untuk rakyatnya.
Siapakah wanita-wanita hebat pahlawan dari Aceh itu? Mari simak penjelasan yang telah di rangkum Jeumpa Media pada Selasa (22/4/2025).
1. Laksamana Malahayati
Keumalahayati atau lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati, merupakan sosok pahlawan perempuan dari Aceh yang lahir pada 1 Januari 1550.
Malahayati adalah cicit dari Sultan Salahuddin Syah, yaitu raja kedua Kesultanan Aceh yang berkedudukan di tahun 1530 hingga 1539. Malahayati disebut sebagai laksamana perempuan pertama di dunia.

Dengan keterampilan dalam perang laut yang diturunkan dari keluarganya, ia berhasil memegang jabatan panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh.
Laksamana Mahmud Syah adalah ayah dari Malahayati yang merupakan panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh, dan kakeknya yaitu Laksamana Said Syah.
Selain itu Laksamana Malahayati juga merupakan pendiri dari Inong Balee, yaitu pasukan perang pertama yang semua anggotanya terdiri dari janda-janda dari prajurit yang telah gugur saat bertempur melawan penjajah Portugis.
Dengan tekat yang kuat, Malahayati gigih melatih sekitar 2.000 anggota Inong Balee menjadi pasukan yang sangat disegani.
Di bawah kepemimpinannya, pasukan Inong Balee berhasil mengalahkan Comelis de Houtman, yaitu orang Belanda pertama yang tiba di Nusantara dan mencoba untuk menguasai Aceh.
Laksamana Keumalahayati juga berhasil mengalahkan armada Portugis. Reputasinya sebagai penjaga gerbang Kerajaan Aceh membuat Inggris memilih menempuh jalan damai dengan menyatakan bahwa kedatangan mereka hanya ingin berdagang, bukan berperang.
Hingga akhirnya Malahayati wafat pada 1615 dan dimakamkan dekat bentengnya di Desa Lamreh, Krueng Raya, Aceh. Presiden Joko Widodo juga turut menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 2017 melalui Keputusan Presiden RI nomor 115/TK/Tahun 2017.
2. Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dien adalah tokoh pahlawan perempuan yang juga berasal dari Aceh dan cukup terkenal dalam sejarah Indonesia. Ia lahir pada 1848, di sebuah daerah bernama Lampadang, Aceh.

Cut Nyak Dien merupakan putri dari seorang panglima perang bernama Teuku Nanta Seutia dan ia adalah perempuan keturunan bangsawan dari Kampung Lampagar.
Cut Nyak Dien adalah sosok salah satu pahlawan yang memimpin Perang Aceh melawan Belanda pada akhir abad ke-19.
Cut Nyak Dien juga menjadi simbol kesetaraan gender dalam perang. Lantaran usai sang suami keduanya, yaitu Teuku Umar, meninggal, ia langsung memimpin gerilya dan menamakan perangnya sebagai perang sabil.
Cut Nyak Dien pun dengan gagah berani terus berperan di garis terdepan dalam peperangan hingga akhirnya ia tertangkap oleh Belanda pada 7 November 1906.
Setelah tertangkap, Cut Nyak Dien dibawa ke Kutaradja. Mendengar hal itu, rakyat Aceh langsung berdatangan untuk menjenguknya.
Khawatir akan simpati tersebut bisa memicu perlawanan baru, Belanda bersiasat mengasingkan Cut Nyak Dien ke Sumedang, Jawa Barat, hingga akhir hayatnya pada 6 November 1908.
Atas jasa dan perjuangannya, Cut Nyak Dien kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 1964.
3. Cut Nyak Meutia
Cut Nyak Meutia lahir di Provinsi Aceh pada 15 Februari 1870. Ia merupakan anak perempuan tunggal dari pasangan Teuku Ben Daud Pirak dan Cut Jah. Ayahnya adalah sosok ulama sekaligus pemimpin pemerintahan di daerah Pirak pada masa itu.

Bersama dengan sang suami keduanya, yaitu Teuku Chik Muhammad, pada 1899 Cut Meutia pertama kali turun ke medan perang melawan Belanda dengan penuh keberanian.
Setelah Chik Muhammad meninggal, Cut Meutia kemudian menikah kembali dengan Pang Nanggroe dan tetap melanjutkan perlawanannya melawan penjajah Belanda.
Bersama dengan suami ketiganya, Cut Meutia bergabung dengan pasukan Teuku Muda Gantoe. Hingga pada sebuah pertempuran melawan korps Marsose di Paya Ciem, Cut Meutia dan para pejuang perempuan lainnya melarikan diri ke hutan.
Namun naas, suaminya gugur di medan perang. Meski demikian, Cut Meutia tetap bangkit dan berjuang bersama 45 prajurit dan 13 senjata menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melalui hutan belantara.
Kemudian pada 24 Oktober 1910, Cut Meutia dan pasukannya berhasil ditemukan oleh Belanda di Paya Cicem. Ia pun memberontak dan menolak ditangkap dengan memegang rencong senjata khas Aceh, dan akhirnya ia ditembak oleh pasukan Belanda di kepala dan dada, hingga meninggal dunia.
Kemudian karena jasanya itu, pemerintah RI memberikan gelar penghormatan pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 kepada Cut Meutia.
4. Teungku Fakinah
Teungku Fakinah adalah sosok pejuang perempuan lainnya dari Aceh, ia mulai ikut melawan Belanda ketika usianya masih 17 tahun, dengan mendirikan sebuah badan amal. Dari situlah, Teungku Fakinah akhirnya nekat mengangkat senjata dan bergerilya bersama sahabatnya yaitu Cut Nyak Dien.

Teungku Fakinah bahkan mendirikan pasukan yang terdiri dari empat batalion, dan salah satunya terdiri dari para kaum perempuan.
Namun, melihat perjuangan dilapangan yang sangat keras, Panglima Polem akhirnya meminta Teungku Fakinah untuk berhenti bergerilya dan lebih fokus pada pendidikan.
Teungku Fakinah pun kemudian mendirikan lembaga pendidikan atau Dayah, dan ia fokus berjuang di bidang pendidikan bagi para generasi penerus di Aceh, hingga akhir hayatnya pada 1938.
5. Pocut Meuligoe
Pocut Meuligoe adalah seorang perempuan yang berasal dari Gampong Baro, ia memimpin pemuda-pemuda Samalanga untuk menggempur Belanda di Batee Iliek.

Pada 15 Juli 1880, Belanda memulai serangannya untuk merebut pusat pertahanan Samalanga di Benteng Batee Iliek.
Usaha Belanda akhirnya gagal karena kegigihan para pejuang di Samalanga yang salah satunya dipimpin oleh Pocut Meuligoe.
Namun Belanda tidak mudah menyerah begitu saja. Samalanga akhirnya di taklukkan oleh Belanda pada 1904, bersamaan dengan takluknya Aceh.
6. Pocut Meurah Intan
Pocut Meurah Intan atau Pocut Meurah Biehue merupakan seorang perempuan keturunan bangsawan Aceh yang lahir pada 1833, di Gampong Lampadang, Pidie.

Laweung dan Batee merupakan wilayah yang ada di Pidie dan salah satu perang Aceh melawan pasukan Belanda yang cukup besar.
Saat itu Pocut Meurah Intan dan semua anaknya ikut turun dalam peperangan melawan penjajah Belanda.
Dalam aksinya melawan Belanda, Pocut Meurah Intan dikenal sebagai seorang pejuang perempuan yang tangguh, bahkan mendapat pengakuan langsung dari Mayor Jenderal TJ Veltman.
Pocut Merah Intan pun akhirnya tertangkap oleh Veltman pada 11 November 1902, kemudian diasingkan ke Blora, Jawa Tengah. Pocut Meurah Intan kemudian meninggal dunia di masa pengasingannya di Blora pada 19 September 1937.
7. Pocut Baren
Pocut Baren merupakan seorang tokoh ulama perempuan dari Aceh yang juga sangat gigih melawan penjajahan Belanda. Pocut Baren lahir pada 1880 dari keluarga bangsawan di Aceh Barat.

Suaminya meninggal di medan perang ketika melawan Belanda. Pocut Baren pun tergerak untuk menggantikan suaminya dan tampil di garis terdepan dalam perlawanan perang menghadapi Belanda.
Pocut Baren kemudian memimpin pasukannya masuk keluar hutan dan sempat bersembunyi di gua demi menghindari kejaran tentara Belanda selama berbulan-bulan.
Hingga pada akhirnya Pocut Baren tertangkap oleh Letnan W Hoogers, di saat pasukannya telah tercerai-berai dan kakinya terkena tembakan. Pocut Baren kemudian dibawa ke markas Belanda di Kutaraja, Banda Aceh.
8. Qurrata ‘Aini/ atau Datu Beru
Nama Qurrata ‘Aini adalah perempuan asal dataran tinggi Gayo yang mungkin belum banyak dikenali dalam sejarah para pahlawan perempuan di Aceh, meski di tanah Gayo sendiri namanya sangat dikenal.

Qurrata ‘Aini diperkirakan lahir antara tahun 1490-1514. Ia pernah menjadi utusan Reje Linge atau Kerajaan Islam Lingga di Gayo sebagai perwakilan parlemen pemerintahan kerajaan Aceh Darussalam (satu-satunya perempuan) pada masa Kesultanan Ali Mughayatsyah dari tahun 1514 sampai dengan 1530.
Qurrata ‘Aini dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas, menguasai ilmu agama, politik, falsafah dan hukum, pandai beragam bahasa termasuk, Aceh, Arab dan Melayu.
Sedangkan nama lainnya yaitu Datu Beru dikarenakan ia belum menikah ketika menemui ajalnya, dan ia menjadi satu-satunya wanita Aceh yang mampu menduduki kursi Parlemen pusat pada masa pemerintahan Sultan Ali Mughayatsyah.
Posisi Datu Beru sebagai satu-satunya perempuan yang berhasil menguasai hukum, membuat dirinya sangat disegani di kalangan kerajaan.
Qurrata Aini atau Datu Beru akhirnya menjadi seorang pakar hukum dan anggota parlemen kerajaan. Pada masa itu, bukanlah hal lazim bagi perempuan mendapatkan gelar sebagai pakar, namun dirinya dapat menjalani peran tersebut dengan sangat baik di tengah dominasi kaum para kaum pria dizaman itu.(*)
