Jeumpa Media | Pidie – Dua Kelompok belajar binaan PASKA ACEH yang didukung juga oleh AJAR (Asia Justice and Right) adakan kegiatan peringatan 19 tahun perdamaian Aceh dan penghilangan paksa di Meunasah Gampong Krueng Jangko, Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie, Kamis (29/8/2024).
Kegiatan dihadiri oleh Masyarakat Krueng Jangko, anggota kelompok Rumah Belajar Makmue Lam Damee dan Taloe Perjuangan, Mukim Aron serta Keuchik Bili Aron, Keuchik Panjoe dan para tokoh masyarakat kemukiman Aron.
Kegiatan semacam ini juga akan dilakukan di beberapa tempat lainnya oleh PASKA ACEH, yaitu Kecamatan Glumpang Tiga, Kecamatan Sakti, Kecamatan Tiro- Kabupaten Pidie dan Kecamatan Trienggadeng – Kab. Pidie Jaya.
Kegiatan ini di selenggarakan untuk mengenang kembali perjalanan sejarah/konflik yang pernah dialami oleh masyarakat Aceh dan juga mensyukuri nikmat perdamaian yang sudah kita dapatkan selama 19 tahun.
Dalam kesempatan tersebut yang mewakili masyarakat yaitu Ramli sebagai Mukim Aron, mengucapkan banyak terimakasih kepada PASKA ACEH
“Terimakasih buah Paska dimana sejak saya menjadi keuchik dalam 2 (dua) periode lalu sudah mendampingi masyarakat korban konflik di wilayah ini sampai terbentuknya 3 (tiga) Koperasi yang masih berjalan hingga saat ini, ditambah dengan pendampingan korban konflik.” Ujarnya.
Adapun saat ini binaan PASKA tersebut sudah mempunyai usaha pabrik padi keliling, mesin hand tracktor dan usaha bumbu dapur. Dan menurut mukim sudah sewajarnya juga masyarakat berterimakasih dan mendukung kegiatan yang dilakukan oleh PASKA ACEH.
Direktur Paska Aceh, Farida Haryani juga berharap untuk ke depan, pengelolaan rumoh geudong bisa dimasukkan dalam salah satu program desa atau kabupaten.
Disamping itu, untuk pembayaran listrik perbulan bangunan memorial Living Park menghabiskan dana sebesar Rp. 4.000.000,-, ini menjadi beban gampong bili aron dimana tempat itu dibangun.
“Ini juga harus dipikirkan bersama, bagaimana pengelolaan biaya pemeliharaan rumoh geudong. Living park saat ini dianggap sebagai nikmat yang ditinggalkan oleh korban untuk masyarakat dan semoga hal ini bisa menjadi manfaat untuk kita semua” kata Farida.
Ia juga menambahkan bahwa salah satu perjuangan pak keuchik bili aron adalah adanya batu besar yang diberikan sebagai tanda kuburan dimana ditempat itu dikuburkan beberapa tulang belulang yang ditemukan pada saat proses pembangunan living park.
Acara tersebut ditutup dengan ceramah yang disampaikan oleh Tgk Abdul Muthaleb dengan menyinggung harus adanya rasa bersyukur oleh korban konflik atas nikmat perdamaian yang diperoleh saat ini.
