Mengenal Mushaf Baiturrahman, Naskah Al-Quran Bersejarah di Aceh

Jeumpa Media | Banda Aceh – Di aula LPTQ siang itu setelah pelaksanaan shalat dzuhur, tampak para pemuda dari berbagai usia mulai kembali memasuki ruangan aula. Mereka kembali duduk dibangku dan mejanya masing-masing dengan berbagai alat tulis kaligrafi, tinta cair, serta sebuah kertas dengan ukuran A1 diatasnya.

Diatas kertas tersebut samar terdapat naskah Al-Quran dengan gaya tulisannya yang khas yang memiliki ciri-ciri gaya penulisan mushaf tempo dulu.

Para penulis kaligrafi atau yang biasa dikenal dengan kaligrafer ini mulai menebalkan tulisan-tulisan yang terdapat pada kerta yang berukuran besar tersebut, huruf demi huruf dan baris demi baris ditebalkan dengan tinta basah satu persatu. Penyalinan tersebut hanya membutuhkan dua tinta, yaitu tinta hitam untuk menulis ayat dan tinta merah untuk menulis tanda-tanda tajwidnya.

Kaligrafer yang berasal hampir dari seluruh Kabupaten/Kota di Aceh ini merupakan peserta hingga pemenang yang berpartisipasi dalam lomba-lomba kaligrafi di tingkat daerah maupun nasional.

Kegiatan penyalinan ini ditelisik dari abad ke-7 Masehi, disaat masa pemerintahan Khalifah Ustman Bin Affan yang menggalakkan penyalinan Al-Quran yang dikenal dengan masa Rasm Ustmani, gaya penulisan Al-Quran terus mengalami perkembangan dan modifikasi baik dalam segi gaya penulisan dari berbagai daerah seiring perkembangan zaman supaya lebih mudah dibaca seperti mushaf yang kita dapati hari ini.

Terkhusus di Aceh, naskah penyalinan Al-Quran diduga diprakarsai oleh Kerajaan Samudera Pasai (1250-1524). Kendati demikian, tidak diketahui dengan pasti bagaimana bentuk awal Al-Quran kuno di nusantara. Hingga era kerajaan Aceh (1514-1900) yang berfokus pada bidang pengebangan ilmu pengetahuan mulai membentuk tempat-tempat penyalinan Al-Quran dari lingkungan kerajaan hingga masyarakat biasa.

Dengan demikian, seiring penyalinan yang menjadi tradisi masyarakat Aceh, penulisan naskah Al-Quran di Aceh lambat laun memiliki karaterisitik tersendiri. Ciri khasnya yaitu tulisan yang berwarna hitam dengan bagian rubrikasi/awal diwarnai merah. Penulisannya didominasi oleh rasmimla’i dengan beberapa pengecualian yang masih mengandung rasm Ustmasni bergaya khat naskhi atau nasta’lik.

Terdapat beberapa lokasi yang menjadi penyebaran mushaf Aceh, baik di Indonesia maupun diberbagai belahan dunia. Salah satu diantaranya adalah Mushaf Baiturrahman yang berada di Leiden University, Belanda.

Mushaf Baiturrahman menjadi istimewa lantaran nilai sejarah yang terkandung didalamnya. Mushaf ini ditemukan pertama kali oleh Ijsel de Schepper didalam dekapan ulama sekaligus imam Masjid Raya Baiturrahman Aceh yang tewas ditangan Belanda. Ijsel kemudian membawa mushaf tersebut ke Batavia yang kemudian dibawa ke Belanda.

Hal ini menjadi bukti agresi militer I Belanda di Aceh pada tahun 1873 telah menewaskan ulama Aceh sehingga menimbulkan kesedihan sekaligus kemarahan dari masyarakat dan kerajaan Aceh.

Dalam bentuk aslinya, mushaf ini memiliki sampul dari kulit dengan ukuran 31,2 cm x 20,3 cm dengan jumlah halaman per jus sekitar 28-30 halaman. Berbeda dengan mushaf modern yang terdiri dari 15 baris, mushaf Baiturrahman hanya terdiri dari 13 baris per halaman dengan total 768 halaman.

“Dengan adanya salinan ulang yang kami serahkan sebagai koleksi Masjid Raya Baiturrahman nantinya, diharapkan masyarakat dapat meilihat bentuk naskah Mushaf Baiturrahman tanpa harus ke Belanda atau hanya secara digital.” Papar Salman, Koordinator Pelaksana Aceh Ramadhan Festival.

Selain itu, diharapkan juga masyarakat Aceh khususnya dapat memperdalam ilmu Al-Quran dan nilai dari naskah Al-Quran zaman dahulu baik dalam segi cerita sejarah maupun dalam tipografinya.(Hul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *