“Jabatan menjadi Ketua Umum (Ketum) HMI di cabang atau Ketum Kohati hanya setahun saja. Sayangnya, perseteruan dalam persaingan berlebihan hingga melahirkan dualisme menjadi pilihan yang dibanggakan.”
Oleh Sharli Maidelina
5 Februari 1947, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri. Tak lagi muda, bahkan menjadi himpunan mahasiswa tertua di Indonesia. Jangan tanyai seberapa besar nama HMI tergaungi. Dua pasangan capres dan cawapres yang merupakan alumni HMI sebagai bukti.
Siapa yang tak mengenal Anies Baswedan dan Mahfud MD. Euforia kader boleh saja, dua pentolan senior akan melaju di pemilihan pimpinan tertinggi negeri ini pada 14 februari nanti. Seakan tak sia-sia setiap jenjang training di lembaga yang disebut Latihan Kepemimpinan (LK) baik LK I hingga LK III.
Sebagai organisasi pengkaderan, konsistensi yang dibangun HMI masa demi masa memang tak bercanda. Anggota dididik sejak awal dengan berbagai filosofi. Tak boleh makan dulu meski kelaparan, masih belajar dan berpikir ditengah malam dengan mengenyampingkan rasa kantuk yang luar biasa. Porsi dan lauk makan sedikit yang disebut nasi ummat adalah bagian dari mengajari ‘penderitaan rakyat pertiwi’ sebagai tradisi di setiap basic training yang wajib dirasai.
Sebagai senior atau alumni pun terdoktrin untuk mengabdi, ya mengabdi dengan terus memantau perkembangan kader. Baik dari sisi keilmuan maupun materi yang dibutuhkan.
Jika ada anak HMI , anggota aktif melapor kesusahan, maka senior pun merasa bertanggung jawab untuk membantu jika ada laporan. Junior dan Senior terikat terus menerus tiada putus di organisasi ini. HMI , Kohati (Korp HMI Wati) dan KAHMI (Korp Alumni HMI) serta Forhati (Forum Alumni HMI Wati).
21 tahun yang lalu, menjelang akhir tahun 2003 bertempat di sekretariat HMI Cabang Langsa, Aceh. Saya yang tak tahu menahu apa itu HMI seakan terjebak untuk masuk dalam basic training karena latah ikut-ikutan.
Terprovokasi senior kampus yang merupakan pengurus HMI Cabang nan menawan. Niyat merebut hati senior idaman pun berubah menjadi zona berpikir keras yang penuh haru dan dicampuri keinginan untuk lari (keluar forum) . Saat itu, teman baik saya memilih keluar forum karena tak tahan telat makan, porsi yang sedikit dan jam tidur yang terlalu larut. Kami pun sepakat untuk kabur ditengah malam. Dari 30an peserta diawal sisa 15 diakhir. Sayangnya saya yang termasuk salah satu provokator untuk cabut malah bertahan. Begitulah kalau jodoh sudah tertakdirkan.
Menjelang akhir basic yang dijadwalkan seminggu, keadaan pun membaik. Pemahaman tentang Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang harus ada sebagai pondasi setiap kader dalam pergerakan yaitu Iman, Ilmu dan Islam bagi saya luar biasa. Ditambah materi lainnya yaitu misi HMI serta hapalan tentang tujuan juga membuat dada ini bergemuruh haru yaitu ada beban tanggung jawab kepada pertiwi.
“Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang di Ridhai Allah SWT” anggaran dasar HMI pasal 4.
Ada kata Ridha di akhir. Mengingatkan saya akan almarhum senior saya yaitu Kanda Ridha Ramli, Master of Training (MOT) LK II yang sampai hembusan nafas akhirnya masih kental rasa cinta ke HMI.
Begitu juga dengan almarhum Kanda Darmin Spd. MOT saya di LK I yang menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang dengan penyakit kanker hatinya. Ia menanamkan nilai NDP tentang Ridha Allah, bahwa apapun yang dilakukan, ingat lah apa Allah ridha akan itu semua.
Rasa benci dan merasa sakit hati karena dibunuh karakter akibat persaingan kepentingan pun tak luput teralami, tapi semua bagian dinamika yang diterima sebagai proses dewasa. Selama menjadi kader maka terus ciptakan karya tanpa pamrih, bangun kegiatan selayaknya mahasiswa dan kritislah terhadap isue ketidakadilan.
Sukses kita adalah takdir Tuhan, maka Yakin Usaha Sampai (Yakusa) sesuai tujuan HMI-lah menjadi doktrin motivasi baik untuk terus terpelihara dalam diri.
Lalu bagaimana HMI masa kini. Masihkah sama? Masihkah ada nilai tulus mengabdi?
Kini, dinamika dualisme tak terelak dan seakan tak ada habis-habisnya. Mengapa dualisme malah menjadi tuntunan turun temurun selama beberapa dekade ini. Entahlah.
Apakah efek mengalirnya anggaran bantuan dari pemerintah serta dukungan senior-senior yang selalu ada. Sehingga meruntuhkan tradisi tulus mengabdi ?!.
Ya senior adalah manusia, bukan dewa. Mereka tetap bisa salah dan juga bisa benar. Tapi mampukah kader menyaring yang salah untuk dikesampingkan dan yang benar diutamakan?!.
Jabatan menjadi Ketua Umum (Ketum) HMI di cabang atau Ketum Kohati hanya setahun saja, Badko dan PB HMI juga hanya 2 tahun. Sayangnya, perseteruan dalam persaingan berlebihan hingga melahirkan dualisme menjadi pilihan yang dibanggakan. Tahun berakhir, musuhan sepanjang abad tetap diteruskan. Pembusukan menjadi sebuah tradisi yang bagi sebagian dianggap normal dan kewajaran.
Sakit hati yang diwarisi, diadopsi adalah cara nyata merusak mental diri. Karena sejatinya hidup ini hanyalah mengabdi sesuai Ridha Ilahi.
Profesor Lafran Pane, pendiri HMI kini telah diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia. Guru Besar ilmu tata Negara Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga itu lahir pada 5 Februari 1922 di Sipirok, Sumatra Utara.
77 tahun organisasi ini berdiri, ada proses membangun diawal yang tak mudah. Ada harapan dan cita-cita yang mulia serta senantiasa diabadikan dalam anggaran dasarnya. Semua demi pertiwi, semua demi Ridha Ilahi sebagai upaya menyelamatkan dunia dan akhirat kita.
Refleksi itu semua, dari segala dinamika yang terjadi, masihkah mau kita lanjutkan atau hentikan. Apakah kita akan memilih menjadi senior yang melahirkan doktrin memelihara benci dan pendukung dualisme? Atau menjadi pendamai yang menanamkan nilai-nilai independensi dimana yang dituruti adalah yang haq, yang condong kepada kebenaran dengan timbangan kebijaksanaan.
Bersyukur dan Ikhlas, Bahagia HMI, Yakin Usaha Sampai.
*Penulis adalah Mantan Ketua Umum Kohati HMI Cabang Langsa, Mantan Kabid Internal Kohati Badko HMI Aceh.
Saat ini menjabat sebagai Komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh 2022-2027.
