Jeumpa Media | Bireuen– Pesantren Modern Al-Zahrah memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem literasi melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Layanan Perpustakaan bertema “Meningkatkan Layanan Perpustakaan Melalui Layanan Prima”. Kegiatan yang berlangsung di Mushalla Al-Makki, Rabu (19/8/2026), ini menjadi bagian dari upaya revitalisasi perpustakaan agar lebih modern, nyaman, dan berorientasi pada kebutuhan pemustaka.
Kegiatan tersebut dihadiri Pimpinan Pesantren Modern Al-Zahrah Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag., Pengelola Al-Zahrah Literacy Centre (ALC) Ikhwan Ramadhana, M.Ag., para guru, pustakawan, serta pengurus Organisasi Santri Pesantren Al-Zahrah (OSPA).
Dalam sambutannya, Tgk. H. M. Fadhil Rahmi menegaskan bahwa status Al-Zahrah sebagai “Pesantren Literasi” yang dinobatkan Kanwil Kemenag pada 2021 harus diiringi dengan pengelolaan perpustakaan yang berkualitas.
“Literasi itu dimulai dari perpustakaan dan membaca. Tidak sepadan jika talenta santri dan guru kita luar biasa, tetapi perpustakaannya tidak dihidupkan. Momentum ini adalah kesempatan kita bersama untuk membenahi koleksi, sistem, hingga kenyamanan perpustakaan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembenahan fisik dan tata kelola perpustakaan sejalan dengan produktivitas santri yang telah menghasilkan sekitar 50 karya.
Sementara itu, Pengelola Al-Zahrah Literacy Centre, Ikhwan Ramadhana, M.Ag., mengungkapkan bahwa gerakan literasi di Pesantren Al-Zahrah telah berkembang sejak 2020. Berawal dari upaya mendorong santri menulis di tengah padatnya aktivitas hafalan, gerakan tersebut kini telah melahirkan berbagai prestasi, termasuk capaian sebagai Duta Literasi Nasional dan puluhan karya tulis.
Menurutnya, perpustakaan perlu bertransformasi menjadi ruang yang hidup dan menyenangkan, bukan sekadar tempat membaca atau berdiam diri.
“Melalui digitalisasi sistem seperti aplikasi SLIMS dan peningkatan layanan, kita ingin pemustaka merasa betah dan menjadikan perpustakaan sebagai sahabat terbaik,” ungkap Ikhwan.
Bimtek menghadirkan Zikrayanti, M.LIS., pakar ilmu perpustakaan, sebagai narasumber utama. Ia memaparkan pentingnya pelayanan prima dalam membangun citra perpustakaan modern. Menurutnya, daya tarik perpustakaan tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan koleksi, tetapi juga kualitas interaksi dan kenyamanan yang diberikan pustakawan.
Zikrayanti memperkenalkan konsep 5S, yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun, serta prinsip A6, meliputi Ability, Attitude, Appearance, Attention, Action, dan Accountability.
“Sering kali orang malas ke perpustakaan bukan karena tidak ada buku, tetapi karena pelayanan belum prima. Pustakawan era digital harus ramah, komunikatif, dan mampu merangkul pemustaka. Senyuman dan kenyamanan adalah modal awal untuk membangun citra perpustakaan yang positif,” jelasnya.
Materi Bimtek mencakup aspek psikologis pemustaka, keterampilan komunikasi, penanganan kendala sirkulasi, penataan lingkungan perpustakaan, shelving dan weeding, hingga teknik menyambut pemustaka secara hangat. Peserta juga didorong membentuk pustakawan cilik serta mengembangkan tiga fokus utama layanan, yakni sirkulasi, pengolahan, dan program kreativitas.
Tidak hanya teori, peserta mengikuti studi kasus dan praktik lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan perpustakaan sekaligus menyusun rencana aksi jangka pendek dan panjang. Di antaranya melalui perancangan tata ruang yang lebih ramah pengguna serta penyusunan program literasi.
Melalui kegiatan ini, Pesantren Modern Al-Zahrah berharap pengelola perpustakaan dan para penggerak literasi mampu menerapkan pelayanan prima sehingga perpustakaan dapat bertransformasi menjadi pusat sumber belajar dan kreativitas yang ramah, modern, dan berkemajuan. (Zanjabila)
