Rasanya miris
ingin menangis
berteriak sekencang angin yang dulu
menyambut langkahku
Namun kutahan dalam diam,
sebab hanya hening yang sudi mendengar piluku.
Kupandangi ketinggian Bur Kelieten,
punggungmu mulai ditebang,
dan hatiku ikut terisak dalam senyap.
Aku masih ingat,
pertama kali kakiku menjejak di tubuhmu,
tahun dua ribu enam belas
kau peluk aku dengan damai,
sejukmu menembus dada,
membungkam gaduh dunia.
Kala itu,
semesta seolah bersatu dalam napas yang sama,
aku dan alam mu
tanpa beban
tanpa batas.
Tapi kini,
kulihat kau direnggut perlahan
oleh tangan-tangan yang haus akan keserakahan,
yang tak paham bahwa hijau itu nafas,
dan sunyi itu doa.
Aku menangis, Bur Kelieten.
Dalam hatiku bertanya,
masihkah kelak akan ada sisa dari indahmu
Masihkah ada suara burung-burung itu yang selalu menyambut kedatang kami di pintu rimba mu.
Masih bisakah kelak aku mengenal sejukmu
tanpa debu, tanpa luka.
Suara hatiku tak sekeras gergaji mereka,
tapi semoga sampai
ke langit,
ke bumi,
ke nurani yang tersisa.
Penulis Asmara piana/cincimpala, Takengon, 15 Juni 2025.
