Viral Setelah Pailit dan PHK Ribuan Karyawan , 6 Fakta Pabrik Tekstil Raksasa Sritex

Jeumpa Media | JAKARTA – Publik dihebohkan dengan pailitnya perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, PT Sri Rejeki Isman Tbk (sritex). Tak tanggung-tanggung, berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak lebih dari 8 ribu karyawan yang dinyatakan terakhir bekerja pada 28 februari 2025. Menariknya, atas turun tangannya presiden Prabowo, para eks karyawan tersebut dapat kembali bekerja dalam waktu dua pekan kedepan, Senin (3/3/2025)

Hebohnya pemberitaan membuat nama Sritex kembali dikenal, hebatnya pabrik ini ternyata pernah jaya di tahun 1990 an dan memproduksi seragam militer Nato serta tentara Jerman.  Bagaimana fakta-fakta terkait Sritex, berikut rangkuman Jeumpa Media Rabu  (5/3/2025).

1. Telah Beroperasi 6 Dekade (60 Tahun), Simak Sejarah Sritex

Haji Muhammad Lukminto atau Le Djie Shien, pendiri PT Sritex diketahui memulai usahanya diawal sebagai pedagang kain di Pasar Klewer, Solo tahun 1966. Dahulu diberi nama UD Sri Redjeki.

Sritex pun mengalami perkembangan di beberapa decade sebagai berikut :

  • 1966 – 1974

Awalnya UD Sri Redjeki hanya menjual kain saja, namun seiring pesatnya usaha kain polosan pun dikembangkan menjadi kain bermotif. Banyaknya penjualan membuat UD ini selain pemasok juga menjadi produsen bagi Perusahaan industry.

Ket : Sritex Pertama berdiri di pasar klewer, Solo 1966 (Doc. sritex)
  • 1974-1981

Di tahun 1974, UD tersebut didaftarkan di Dinas Perindustrian Jawa Tengah. Kemudian pada 1978 menjadi PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Pada tahun tersebut, mulai menggunakan mesin produksi sehingga kualitasnya semakin baik. Karena semakin maju maka karyawanpun semakin bertambah hingga tahun 1981.

  • 1981-1984

Seiring bertambahnya permintaan pasar, maka dibangunlah perluasan pabrik di Kelurahan Jetis Sukoharjo dengan luas 5,6 ha serta memiliki 2000 buah mesin. Kemudian pabrik ini kembali lagi mengalami perluasan dan penambahan karyawan.

  • 1984-1991

Di tahun ini Sritex semakin berkembang, mesin bertambah dan melakukan perluasan departemen hingga memproduksi pakaian jadi.

  • 1992

Sritex menempati area seluas 50 ha dan diresmikan Presiden Soeharto pada 2 maret 1992. Presiden memberi nama ‘industri tekstil terpadu’ karena dapat memproduksi dari bahan baku hingga menjadi busana. Kini, pabrik di Sukoharjo saja mencapai luas 79 hektar dengan karyawan juga semakin bertambah hingga mencapai 80.000 an .

2. Jangkauan ekspor Luar Negeri hingga di Kontrak NATO dan Tentara Jerman

Di masa kejayaannya, sritex  sebagai pabrik tekstil terbesar di asia Tenggara mengikuti program pemerintah dan memiliki jangkauan ekspor ke negara asia, amerika dan juga eropa. Tak tanggung-tanggung, pabrik ini juga menjadi pemasok seragam militer untuk 35 negara. Pada tahun 1994, Sritex mendapat kontrak strategis yaitu memproduksi seragam militer untuk NATO dan Jerman.

Ket : Karyawan yang sedang menjahit pakaian seragam Tentara (dok. Ig Sritex)

Beberapa negara yang dipasok yaitu  Jerman, Inggris, Malaysia, Australia, Timor Leste, Uni Emirat Arab, Kuwait, Brunei Darussalam, Singapura, Amerika Serikat, Papua Nugini, Selandia Baru, Tunisia, Turki, dan anggota NATO.

3. Kualitas Produk setaraf Internasional

Selain memproduksi seragam tentara, Sritex mengekspor benang dan kain hingga ke 100 negara. Dalam setahun, Sritex memproduksi 1,1 juta bal benang, 179,9 juta meter kain mentah, 240 juta yard kain berwarna, serta 30 juta potong pakaian jadi dan seragam.

Selain permintaan seragam militer oleh TNI pada 1990, Sritex juga membantu pengembangan hovercraft milik TNI AD, lalu tenda, dan ransel militer. Salah satu produk yang kualitasnya bisa diandalkan adalah rompi antipeluru. Dalam hal ini Sritex juga telah memperoleh sertifikasi internasional

“Spesifikasi militernya sampai level empat, yaitu laras panjang dan serang jarak dekat. TNI juga pakai ,” ucap Presiden Direktur Sritex Iwan Kurniawan Lukminto sebagaimana dilansir Tempo.

4. Pailit, Aset Dilelang Guna Pembayaran Hutang

Setelah pandemi Covid-19, angka penjualan perusahaan anjlok pada 2020. Di sisi lain, beban pokok penjualan naik sehingga Sritex mencatat kerugian untuk pertama kali di pasar modal.

Pada 2021, Sritex rugi bersih sekitar Rp 15,4 triliun. Pada semester I 2024, kerugian menipis menjadi Rp 421 miliar. Kini kewajiban Sritex membengkak dari Rp 13,43 triliun pada 2019 menjadi Rp 26,2 triliun pada pertengahan 2024.

Kemudian pada sabtu, 1 Maret 2025, Sritex resmi tutup usai diputuskan dalam rapat kreditur kepailitan Sritex pada Jumat, 28 Februari 2025.

Tak hanya di Sukoharjo, anak perusahaan lain dalam Sritex Group juga terdampak, dengan total 10.669 pekerja terkena PHK sejak Januari 2025.

Vonis pailit jatuh setelah pemasok mereka, PT Indo Bharat Rayon, menggugat Sritex lantaran tak membayar utang.

5. Karyawan Sritex Bisa Bekerja Lagi Usai Di-PHK

PHK besar-besaran ini membuat Presiden dan jajaran menteri turun tangan mencari Solusi. Nurma Sadikin, kurator kepailitan mengatakan pihaknya mengambil opsi sewa alat berat dan telah ada investor yang bersedia. Pengumuman soal pihak penyewa akan diumumkan dalam dua minggu ke depan.

Ket; Doa bersama ribuan karyawan Sritex pasca putusan Kasasi MA agar Sritex tetap beroperasi dan meminta pertolongan presiden Prabowo (28/12/2024). (Doc. ig Sritex)

Menurut Nurma, pihaknya berharap para karyawan sritex yang di PHK dapat dipekerjakan kembali oleh pihak investor.

Adapun Nurma juga belum bisa memastikan apakah semua karyawan yang dipecat PT Sritex bisa direkrut secara permanen oleh investor baru atau hanya sementara selama alat berat perusahaan tekstil itu disewakan.

Selain itu, pihak kurator juga berjanji akan membayar hak-hak eks karyawan yang terkena PHK.

6. Sosok Presdir Sritex yang Humanis dan Peduli Hak Anak

Presiden direktur Sritex  yaitu Iwan Kurniawan Lukminto, ia merupakan anak keempat dari pendiri Sritex HM Lukminto.

Ket : Presiden Direktur Sritex ikut menangis bersama karyawan yang terpaksa di PHK. (Dok. Sritex)

Lahir di Surakarta pada 22 Januari 1982, Iwan memiliki latar belakang pendidikan di bidang administrasi bisnis dari Johnson & Wales University di Amerika, juga Northeastern University, dan Boston University.

Sejak awal ia  memegang berbagai posisi strategis di Sritex sebelum akhirnya diangkat menjadi Direktur Utama pada tahun 2023. Sedangkan istrinya, Mira Christina Setiady sebagai Direktur Operasional

Sebelum menjadi Dirut, Iwan berperan sebagai Wakil Direktur Utama sejak 2014.

Kepemimpinannya di perusahaan tekstil terbesar di Indonesia ini membawa Sritex berkembang ke pasar global, termasuk memasok produk ke negara-negara besar.

Di samping itu, Iwan Kurniawan juga sosok yang dicintai karyawannya, terbukti dari video yang menunjukkan saat-saat perpisahan dengan para karyawan, banyak karyawan yang memeluknya dan menangis.

Kemudian, ia juga dikenal peduli terhadap isu-isu pemenuhan hak anak. Ada 23 kebijakan dibawah kepemimpinannya yang mengedepankan hak-hak anak, seperti tidak mempekerjakan anak di bawah umur, kemudian menyediakan ruang laktasi, serta menyediakan klinik bagi anak karyawan.

Nah demikian sederet fakta tentang Sritex yang cukup disayangkan, sesuatu yang dulunya sebuah raksasa kini mengalami kebangkrutan luar biasa. Semoga pemerintah presiden Prabowo dapat mengatasi para karyawan yang di PHK . (mai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *