Ini Fakta dibalik Ricuh Mahasiswa Abulyatama, Hingga Merenggut Nyawa

Jeumpa Media | Banda Aceh- Konflik yang berkepanjangan di tubuh yayasan yang mengelola kampus menjadi hal penting yang melatarbelakangi terjadinya aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Abulyatama (Unaya), Aceh Besar, Kamis (17/4/2025).

Berdasarkan dari berbagai informasi yang dihimpun, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Unaya, membeberkan jika konflik ini berawal dari pencabutan izin operasional Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta, di mana itu adalah salah satu aset milik RB, yang juga memiliki peran sebagai pendiri yayasan.

Akibat dicabutnya izin dari Kementrian tersebut, berdampak pada kampus itu sehingga tidak dapat beroperasi dan berujung bangkrut.

Usai kejadian itu, perubahan pada petinggi-petinggi di Universitas Malahayati Lampung mengakibatkan secara sepihak RB dan melakukan perubahan surat-surat istimewa yang hanya ditandatangani secara sepihak pula oleh RB tanpa sepengetahuan RS yang juga merupakan petinggi dari yayasan alih Teknologi Bandar Lampung.

Diketahui RS dan anak-anaknya merupakan pimpinan yang berada di Universitas yang berada di Aceh dan di Lampung tersebut.

Sementara itu, RS, istri RB diketahui selama ini turut mengelola yayasan, dan mengaku tidak mengetahui adanya perubahan struktur tersebut. Ia menyatakan jika namanya dan anak-anaknya digantikan dari jajaran pembina yayasan tanpa sepengetahuannya.

Sebelumnya, pada 9 Februari 2025, RS menyatakan pada media bahwa ia mengklaim RB pernah berjanji akan menghibahkan seluruh aset usaha kepada dirinya dan anak-anak mereka, bukan hanya itu, RB juga akan mendirikan yayasan baru atas nama keluarga mereka. Namun, akta yayasan diketahui malah berubah.

Konflik internal ini pun semakin memanas setelah RB akhirnya melantik rektor baru Universitas Abulyatama secara sepihak pada 21 Februari 2025 lalu.

Usai sehari pelantikan, terjadilah perusakan aset kampus oleh orang tak dikenal. Wakil Rektor II, yaitu MR, kemudian melaporkan kejadian itu ke Polda Aceh.

Akan tetapi nama RB pun akhirnya ikut terseret dalam penyelidikan, namun hanya sebagai saksi. Selain itu, muncul pula isu bahwa MR telah melaporkan ayah kandungnya sendiri, meski informasi ini dibantah oleh pihak kampus.

Akibatnya, hal tersebut memicu terjadinya ketegangan di mana terdapat 200 orang yang datang mengaku sebagai Satgas Kampus Unaya yang memasuki area kampus secara paksa pada Senin (14/4/2025).

Mereka malah mengusir sejumlah penghuni kampus, termasuk mahasiswa yang berada di asrama pria lantai dua. Bukan hanya itu, tindakan kekerasan ini juga dilaporkan terjadi terhadap petugas keamanan resmi kampus Unaya.

Insiden itupun semakin memperburuk situasi hingga  memicu unjuk rasa dari mahasiswa Unaya yang merasa terganggu oleh konflik internal yang berkepanjangan di lingkungan kampus mereka.

Mahasiswa meminta agar pihak-pihak yang bertikai segera menyelesaikan permasalahan secara damai dan menyerukan intervensi dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) supaya proses belajar-mengajar di kampus tersebut dapat kembali berjalan normal.

Fakta lain, dibalik kericuhan itu akhirnya merenggut nyawa seorang anggota satuan tugas (satgas) Universitas Abulyatama (Unaya), yaitu Wahidin. Ia meninggal dunia ketika sedang berupaya mengamankan aksi unjuk rasa di depan gerbang kampus Unaya, di Gampong Lampoh Keude Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, pada Kamis, (17/4/ 2025).

Dr. Nurlis Effendi  selaku Rektor Universitas Abulyatama mengatakan, bahwa peristiwa ini terjadi saat gelombang massa yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan pihak eksternal memadati kawasan kampus untuk menyampaikan aspirasi.

Diketahui ketika itu Wahidin sedang berada di pintu gerbang, namun pengunjuk rasa saat itu berusaha mendesak gerbang hingga mengakibatkan Wahidin terjatuh dan terinjak-injak oleh massa aksi.

Wahidin kemudian berupaya untuk lari mengamankan diri di masjid dekat pintu gerbang, namun ia akhirnya meninggal dunia dalam masjid tersebut. 

Akibat aksi protes atas ketidakpuasan terhadap kondisi kampus yang dinilai dibiarkan dan menggantung, berujung merenggut nyawa seorang Ayah yang memiliki lima orang anak.

“Unjuk rasa mereka protes sebenarnya sama dengan apa yang kami protes ke Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI), karena seperti membiarkan kondisi kampus kita dan menggantung. Ada pihak yang menurut kami tidak  berhak untuk mengontrol kampus dari pimpinan rektor lama dan tidak memberikan kepastian terkait hal tersebut,” pungkas Nurlis.

Nurlis juga mengatakan bahwa ketika insiden tersebut terjadi, pihaknya belum tiba di kampus, sedangkan satgas yang sudah berada di kampus harus mempertahankan diri menjaga kampus.

Gelombang unjuk rasa tersebut sangat besar karena berasal dari berbagai elemen mulai dari  kelompok mahasiswa, dosen, dan juga kelompok yang bukan dari kampus.

Nurlis mengungkapkan bahwa pihaknya tidak melarang adanya aksi unjuk rasa, namun jangan membunuh dan menganiaya dan anarkis. Apalagi melempar batu dan balok ke petugas hingga mengalami luka.

Ada juga petugas yang kepalanya luka akibat dipukul menggunakan batu dan harus dirawat di rumah sakit.

“Kami mengecam keras aksi ini yang tidak mencerminkan intelektual. Tidak mencerminkan seorang pendidik atau dosen karena mempengaruhi mahasiswa untuk anarkis. Ada dari dosen Abulyatama dan beberapa bahkan mantan pejabat lama

Sehingga membuat petugas luka karena di pukul dengan batu dan harus dirawat di rumah sakit. Ada dari dosen Abulyatama dan beberapa bahkan mantan pejabat lama,” ucapnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *